Friday, March 24, 2017

Uang Kuliah Tunggal ???

Kuliah itu tidak semudah yang dipikirkan. Bisa melanjutkan kuliah adalah kebanggaan tersendiri karena ditatanan masyarakat, orang yang berpendidikan tinggi itu memiliki status sosial yang tinggi. Tidak bisa dipungkiri, orang yang memiliki pendidikan yang tinggi pasti sangat disegani dan dihargai di masyarakat ditambah lagi orang yang sekolahnya tinggi pati lebih mudah menerima pekerjaan dibandingkan dengan orang yang sekolahnya hanya sampai pada taraf sekolah 12 tahun (SD, SMP dan SMA). 
Bisa kuliah di universitas terbaik adalah impian setiap anak. Bisa kuliah di universitas terbaik dalam negeri saja sudah menjadi kebanggaan yang luar biasa dan membanggakan apalagi bisa kuliah di luar negeri. Namun, semua itu tidaklah semudah yang dibayangkan apalagi di dalam negeri. Ada hal yang menarik yang dengan kebijakan yang akhir-akhir ini berlaku di beberapa universitas di Indonesia bahkan universitas terbaik pun sudah menerapkan kebijakan itu  yaitu Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dipadukan dengan Sistem Subsidi Silang. Kedua kebijakan ini menimbulkan banyaknya tanggapan, baik itu tanggapan positif (menerima dan memberi kesempatan agar kebijakan itu dicoba) sampai pada tangapan yang negatif (langsung menolak tanpa mau tahu alasannya kedepan). Sistem UKT adalah kebijakan baru yang dibuat untuk menggantikan sistem sebelumnya yaitu sistem SPP. Sistem UKT ini dibuat untuk menghindari adanya pungutan liar di dalam kampus. Sistem UKT ini adalah sistem pembayaran yang hanya sekali dalam satu semester, jadi tidak ada lagi yang dibayar ketika UKT sudah kita bayar sebelum semester baru. Sistem ini memang sangat baik jika betul-betul dikelola dengan baik. Tetapi yang menimbulkan respon negatif disini adalah dipadukannya sistem UKT dengan Sistem subsidi silang. Sistem subsidi silang adalah sistem dimana kalangan menegah keatas akan menanggung pembayaran oleh sistem menegah kebawah. Yang perlu digaris bawahi disini adalah bagaimana nasib golongan yang termasuk bahagian menegah ke atas. Walaupun pihak kampus biasanya memiliki tim untuk menyelidiki status kehidupan mahasiswa itu sendiri, tetapi di kehidupan kampus adalah masa dimana anak sudah menginjak kedewasaan. Usia kedewasaan ini membuat anak ingin mencari jalan kemandiriannya, dimana pasti ada perasaan untuk tidak lagi membebani orangtua utamanya dari segi biaya. Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan juga pihak kampus mengingat anak dari golongan menengah keatas akan cenderung merasa bahwa ia akan menjadi beban bagi orangtuanya. Ditambah lagi disisi lain, anak yang golongan menengah kebawah malah hidup mandiri dengan banyaknya fasilitas beasiswa yang bisa diperoleh. Hal ini diperparah dengan beasiswa yang disediakan pihak diluar pemerintah dan kampus pun juga cenderung mengarah ke pihak menengah kebawah, hal ini ditandai dengan dimintainya lampiran surat keterangan tidak mampu dari pemerintah setempat. Ini menajdi tekanan tersendiri bagi anak yang berada pada golongan menegah keatas. Mungkin solusi terbaik adalah dengan menjaga semua perasaaan emosional setiap anak dengan tidak membeda-bedakan bahkan mengungkit-ungkit latar belakang pribadinya karena walaupun dari golongan menegah keatas anak merasa tidak enak bahkan malu jika latar belakangnya menjadi cerita. Mungkin pelayanan kemahasiswaan dan beasiswa harus dikaji kembali agar mendapatkan solusi terbaik dari kasus ini. Aamiinn...

Hmmm... setiap anak selalu ingin mencari jalan kemandiriannya, setiap anak ingin juga merasakan hasil usahanya sendiri. Tetap semangat dan upayakan yang terbaik kedepannya...!!!

No comments:

Post a Comment

SURAT TERBUKA Yth. Ayahanda/Ibunda di-tempat Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, Allahumma shalli ‘ala Sayyi...